jurnal Nasrullah 12 Jul 2025 109 Views
jurnal
Nasrullah
12 Jul 2025
109 Views
IPM.MAKASSAR.OR.ID *Abstrak* Keluarga merupakan salah satu unit sosial terkecil tapi penting yang memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian tiap individu sehingga ini memiliki pengaruh besar dalam suatu kaum atau negara. Dalam pandangan islam keluarga sakinah dipandang sebagai layaknya pondasi dalam membangun masyarakat yang berkualitas, harmonis dan berkeadaban. Akan tetapi, dari maraknya arus globalisasi dan modernisasi, tiap kelompok keluarga dihadapkan dengan berbagai tantangan krusial seperti meningkanya angka perceraian, pergeseran nilai gender, dan minimnya komunikasi antaranggota keluarga. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan strategi muhammadiyah dalam membangun keluarga sakinah khususnya di era modern saat ini, dengan menggunakan pendekatan studi pustaka terhadap beberapa jurnal ilmiah yang relevan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, dengan menganalisis beberapa jurnal ilmiah yang terkait dengan strategi pembinaan keluarga sakinah dari pandangan muhammadiyah. Hasil penelitian menggambarkan bahwa Muhammadiyah memiliki pendekatan yang sangat konseptual dan praktis dari berbagai strategi yang sistematis dan menyeluruh dalam program keluarga sakinah. Salah satu strategi yang dipakai yakni melalui Pendidikan formal, kegiatan dakwah seperti pengajian, pelatihan dll, dan juga program dari organisasi otonom Muhammadiyah yaitu Aisyiyah dan juga tetap memerhatikan nilai-nilai Himpunan Putusan Tarjih sampai dengan pendekatan berbasis digital dan komunitas diaspora. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa strategi yang dipakai oleh Muhammadiyah mampu mengatasi tantangan zaman dengan memadukan nilai-nilai dan pendekatan yang actual atau kekinian. Namun, dari berbagai konsep dan strategi yang dipakai tidak menutup kemungkinan masih dihadapkan dari berbagai tantangan. Maka dari itu, untuk mencapai keberhasilan dari strategi ini perlu untuk terus melakukan evaluasi agar dapat menjangkau secra luas mulai dari keluarga muda dan masyarkat urban yang semakin meningkat. Dalam Upaya pembinaan keluarga sakinah tidak hanya menjadi tanggung jawab tiap individu keluarga, tetapi juga merupakan tugas bersama dari organisasi keagamaan dalam menjaga peradaban islam yang rahmatan lil’alamin.
Kata Kunci: Konsep Keluarga Sakinah, Strategi Muhammadiyah, Pendidikan Islam, Globalisasi, Modernisasi.
-----||----- -----||----- -----||----- -----||----- -----||-----
1. PENDAHULUAN
Sebagai Individu yang diciptakan oleh Allah SWT untuk saling berpasangan konsep keluarga merupakan hal yang melekat dalam kehidupan manusia sehingga ini menjadi salah satu apek penting dalam menjalankan kehidupan yang mampu membentuk pribadi tiap-tiap individu.
Dalam islam, ada istilah keluarga Sakinah mawaddah marahmah seringkali diucapkan sebagai permohonan kepada Allah untuk diberikan keluarga yang berada dalam ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Namun dengan derasnya arus globalisasi dan modernisasi saat ini untuk menciptakan keluarga seperti itu bukan hal yang mudah. Banyak keluarga yang mengalami fenomena-fenomena perceraian, kekerasan, pertengkaran hingga kehilangan berkah dari pernikahan hanya karena pengaruh dari globalisasi dan hidup modern yang semakin merajalela.
Maraknya pernikahan dini yang mampu memberikan dampak kurang baik terhadap individu karena belum memiliki kesiapan dari segi fisik maupun mental serta belum memiliki kesiapan dalam menjalankan peran sebagai suami atau istri dan sebagai orang tua sehingga Muhammadiyah melalui majelis tarjih telah mengeluarkan panduan tentang usia ideal pernikahan, yang perlunya untuk menekankan kematangan secara emosional dan juga kesiapan mental
Namun untuk menuju pada keluarga yang berkualitas dan mandiri yakni merupakan tanggung jawab keluarga itu sendiri akan tetapi pemerintah sebagai pelaksana dan tanggung jawab atas masyarakatnya untuk memberikan hak nya sebagai warga negara maka pemerintah berkewajiban menyiapkan regulasi dan fasilitas yang mendukung agar terciptanya keluarga yang harmonis.
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia telah mengambil peran dan strategi penting dalam menciptakan keluarga yang sakinah dengan melalui pendekatan pendidikan dan dakwah. Apalagi Aisyiyah organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di bidang social dan keagaamaan merasa bertanggung jawab untuk memberikan pembinaan dan tuntunan keluarga menuju keluarga yang Sakinah sebagai salah satu arah Gerakan dalam dakwahnya. Langkah yang diambil yakni pembinaan keluarga Sakinah merupakan program untuk membentuk dan agar mencapai karakteristik keluarga Sakinah itu sendiri
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis atau mengkaji peran Muhammadiyah dalam menciptakan keluarga Sakinah di kalangan Masyarakat yang merupakan suatu cita-sita setiap insan individu dalam memasuki kehidupan rumah tangga akan tetapi sebagian masyarakat saat ini belum sepenuhnya memahami apa dan bagaimana makna dari keluarga Sakinah itu sendiri. Peneltitian ini akan memberikan ulasan tentang bagaimana konsep keluarga Sakinah meliputi dari segi pengertian dan juga apa peran Muhammadiyah dalam membentuk keluarga yang Sakinah.
2. TEMUAN DAN PEMBAHASAN
2.1 Konsep Keluarga Sakinah Perspektif Muhammadiyah
A. Makna Keluarga Sakinah
Keluarga tidak hanya merupakan Lembaga terkecil dalam suatu negara akan tetapi ini adalah salah satu aspek yang mampu menentukan kepribadian tiap individu dan menentukan arah kedepan dalam suatu kaum atau bangsa sehingga ini menjadi indikator penting untuk bagaiamana tiap individu memahami arti kata keluarga yang Sakinah
Dalam konsep islam keluarga adalah merupakan suatu hubungan antara laki-laki dengan Perempuan dengan melalui proses akad nikah maka dengan adanya sebuah ikatan pernikahan tersebut anak keturunan yang dihasilkan akan menjadi halal dan sah sehingga Ketika terjadi sebuah hubungan anatara laki-laki dengan Perempuan tanpa adanya proses pernikahan yang sesuai dengan syariat maka hubungan tersebut menjadi haram. Dan juga islam menganjurkan kepada ummatnya untuk saling berpasangan dan membangun keluarga dengan tetap memerhatikan nilai-nilai syariat. Apalagi keluarga adalah pelengkap dalam sebuah kehidupan untuk memenuhi segala keinginan dan kebutuhan-kebutuhannya karena secara individu manusia tidak mampu memenuhi segala
Keluarga Sakinah adalah istilah yang merujuk pada suatu kondisi atau keadaan dalam sebuah keluarga yang memiliki karakteristik kesejahteraaan dunia dan akhirat. Dan Aisyiyah memiliki program pembinaan keluarga Sakinah yang dikembangkan semenjak tahun 1985
Istilah keluarga Sakinah adalah merupakan representasi yang dikemukakan dalam surah ar-rum (30): 21, yang menyatakan bahwa tujuan daripada berumah tangga adalah untuk menciptakan ketentraman dan ketenangan dengan dasar mawaddah warahmah (saling mencintai dan menyayangi). Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah ia menciptakan isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir [Q.S ar-rum (30): 21].
Dalam artian istilah Sakinah yakni sebuah ketenangan, ketentraman, keharmonisan, kekompakan dan kehangatan. Dan untuk mencapai kesakinahan tentunya terlebih dahulu perlu menerapkan yang nama-Nya mawaddah warahmah dalam sebuah keluarga. Mawaddah bermakna sebgai rasa saling mencintai dan menyayangi satu sama lain dengan penuh rasa tanggung jawab antara suami dan isteri. Sedangkan Rahmah berartikan rasa saling simpati satu sama lain dalam segi pengertian, penghormatan dan tanggung jawab anatara satu dan lainnya.
Dan juga keluarga Sakinah itu bukan hanya tentang hubungan suami istri yang sudah dijamin legalitasnya akan tetapi tentang bagaimana membangun keluarga yang penuh kasih sayang serta tanggung jawab. Dalam pandangan Muhammadiyah keluarga Sakinah adalah keluarga yang damai, saling menghargai, serta mampu melengkapi kebutuhan jasmani dan Rohani setiap anggota keluarganya. Merujuk kepada Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, dinyatakan bahwa untuk menciptakan keluarga yang Sakinah membutuhkan lima asas penting, yakni karamah insaniyyah (kemuliaan kemanusiaan), musawwah (keseteraan), keadilan, mawaddah waarahmah (kasih sayang), serta pemenuhan kebutuhan hidup (taufir al-hajat) (penjalu dan mas’ad, 2025:60). Nilai-nilai inilah yang menjadi aspek utama dalam membangun keluarga yang bukan hanya sukses didunia tetapi diridhai oleh Allah untuk kehidupan selanjutanya di akhirat.
2.2 Strategi Muhammadiyah dalam Membina Keluarga Sakinah
Dari beberapa pembahasan dapat disimpulkan bahwa hakikat dari keluarga Sakinah jika diambil dari pandangan Muhammadiyah sesuai dengan hasil analisis artikel ini adalah tentang bagaimana cara membangun keluarga yang menumbuhkan rasa kasih pada tiap anggota keluarga untuk kemudian menciptakan rasa tentram, aman, nyaman dan damai yang mampu membawa kesejahteraan sampai di akhirat kelak
Namun Muhammadiyah sejak pertama kali berdirinya telah menkankan dan mengimplementasikan pentingnya Pendidikan sebagai Langkah nyata untuk membentuk Masyarakat islam yang sebenar-benarnya termasuk dalam hal pembinaan keluarga yang Sakinah. Dari awal Muhammadiyah telah membuktikan aksi nyata dengan mendirikan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah mulai dari TK Muhammadiyah, SD Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah hingga Universitas Muhammadiyah sehingga hal ini tidak didesai hanya untuk ilmu pengetahuan umum saja akan tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman, moral, dan akhlak mulia sehingga ini yang menjadi pondasi penting dalam membangun sebuah rumah tangga yang Sakinah
Dalam jurnal Ramzy dkk. (2023), dijelaskan bahwasanya Kurikulum di tiap-tiap sekolah Muhammdiyah memberikan kesimbangan antara Pendidikan agama dan juga Pendidikan social yang memberikan pemahaman terhadap siswa-siswi tentang bagaimana peran mereka kelak Ketika menjadi seorang suami dan istri atau sebagai orang tua. Dalam proses Pendidikan siswa diajarkan pentingnya membangun sebuah tim atau hubungan yang sehat, tentang menjaga komunikasi, serta bagaimana memahami hak dan kewajiban sebagai anggota keluarga. Maka dengan begitu Lembaga Pendidikan Muhammadiyah menjadi tahap awal bagi tiap individu manusia untuk membentuk calon Pembina keluarga Sakinah (Ramzy, 2023:38)
Dalam strategi dari segi Pendidikan ini tidak hanya diarahkan untuk kepada siswa akan tetapi di tiap Lembaga Pendidikan Muhammadiyah biasanya mengadakan pertemuan atau pengajian orang tua siswa yang berfungsi untuk memberikan pemahaman tentang Pendidikan anak. Dalam islam khususnya adab dalam keluarga, dan juga bagaimana peran seoerang ayah dan ibu sebagai pendidik nomor satu dalam rumah. Sehingga strategi ini membuktikan bahwa Lembaga Pendidikan Muhammadiyah tidak hanya mengurus persoalan akademik, akan tetapi juga dari segi spiritual dan social secara menyeluruh
Selain daripada melalui Pendidikan formal Muhammadiyah juga melakukan pendekatan dari segi non-formal yang Gerakan dakwah yang berlandaskan amar ma’ruf nahi mungkar. Beragam program dakwah yang dilakukan Muhammadiyah sehinga ini menjadi salah satu strategi penting dalam menjangkau masyrakat dengan menjalin interaktif secara langsung salah satunya seperti melalui pengajian rutin, pelatihan pranikah, forum ayah-ibu, hinga majelis taklim yang focus utamanya membahas isu keluarga
Dalam jurnal alfiannor (2024) menjelaskan bahwa Aisyiyah merupakan bagian dari Muhammadiyah yang telah menjalankan berbagai program pembinaan keluarga yang dikemas yang didesain dalam bentuk bimbingan dari segi rohani maupun, Kesehatan keluarga, serta membuka ruang konsultasi masalah rumah tangga. Bahkan, pendekatan yang dipakai oleh Aisyiyah adalah yakni menyusuaikan situasi lokal Masyarakat dengan memerhatikan kondisi daerah tersebut seperti daerah terdapat angka perceraian yang lebih tinggi maka materi yang diberikan adalah penekanan tentang bagaimana membangun komunikasi efektif dalam sebuah rumah tangga (Alfiannor, 2024:39)
Dalam agenda aksi yang dilakukan Muhammadiyah ini dari segi pendekatan non-formal mampu menciptakan kondisi yang lebih aktif, cair dan komunikatif Masyarakat yang ikut hadir mersakan dampak dari kegiatan itu sehingga mampu membuat ibu-ibu dan bapak-bapak lebih terbuka dalam menyuarakan problematikan yang mereka rasakan dalam sebuah kekeluargaan. Sehingga hal ini penting karena tidak semua orang mampu untuk berbicara pada forum seperti ini. Maka pendekatan yang dilakukan menjadi ciri khas Muhammadiyah dalam menciptakan keluarga Sakinah yang langsung menyentuh dari akarnya.
Kemudian Aisyiyah sebagai organisasi Perempuan Muhammadiyah telah lama untuk mengimplementasikan program pembinaan keluarga Sakinah di tengah masyarakat luas. Bahkan sebelum istilah “gender†populer dimana-mana Aisyiyah sudah lama sebelum itu mengususung semangat pemberdayaan Perempuan muslim termasuk dalam memainkan peran sebagai seorang suami isteri dan juga orang tua
Merujuk kepada jurnal Alfiannor (2024) dinyatakan bahwa sejak muktamar Aisyiyah yang ke-41 tahun 1985, program keluarga Sakinah dijadikan salah satu program utama yang tidak hanya menyeru kepada aspek spiritual akan tetapi juga aspek Pendidikan, ekonomi, Kesehatan, social, serta lingkungan. Aisyiyah merasa perlu bahwa Perempuan memiliki peran kunci dalam sebuah rumah tangga yang sehat dan berkualitas (Alfiannor, 2024:40)
Selain itu ternyata Aisyiyah menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga nasional seperti BKKBN dan juga UNICEF dalam mendukung penuh program Kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, serta perlindungan perempuan dan anak. Dari kerja sama ini Aisyiyah mengembangkan Langkah yang diambil agar tidak hanya mengandalkan dari pendekatan keagamaan saja.
Kemudian Muhammadiyah menjadikan Himpunan Putusan Tarjih sebagai pedoman dalam melaksanakan pembinaan keluarga. Dalam HPT jilid 3, tertera sangat jelas definisi dari keluarga sakinah dan juga termuat lima asas utama yang menjadi pijakan keluarga sakinah yang ideal, kemuliaan manusia (karamah insaniyyah), keseteraan (musawwah), keadilan, kasih sayang (mawaddah waarahmah), dan pemenuhan kebutuhan hidup (taufir al-hajat)
Dalam jurnal Panjalu & Mas’ad (2025), Menggambarkan bahwa pembinaan keluarga sakinah pada komunitas diaspora Malaysia diimplementasikan secara kontekstual. Mereka menyesuaikan materi pelatihan dengan apa yang menjadi kebutuhan peserta dan menggunakan pendekatan interaktif seperti diskusi dan praktik, agar lebih mudah diterima oleh masyarakat pekerja migran.
Himpunan Putusan tarjih tidak hanya dijadikan sebagai patokan akan tetapi juga dijadikan sebgaia alat dakwah yang bisa disesuaikan dengan kondisi tiap daerah masyarakat. Sehingga ini membuktikan bahwa Himpunan Putusan Tarjih bukan sekedar Kumpulan fatwa saja, melainkan sumber rujukan kehidupan yang aplikatif
Kemudian yang menjadi tantangan dari derasnya arus globalisasi, digitalisasi dan juga zaman yang serba modern membuat Muhammadiyah harus menyikapi dengan bijak agar supaya mampu beradaptasi dengan konidsi zaman yang terus berkembang dalam mengimplementasikan program pembinaan keluarga. Dalam jurnal Panjalau dan Mas’ad (2025), dijelaskan nagaiman konsep dan rancanan yang dipakai dalam program pelatihan keluarga sakinah di komunitas buruh migran Indonesia di Malaysia. Mereka mengunakan konsep pembelajaran yang aktif dan interaktif seperti ceramah, diskusi dan simulasi untuk menyentuh masyarakat dengan latar belakang Pendidikan yang berbeda-beda.
Inovasi yang dilakukan juga beradaptasi dengan kondisi zaman dengan memanfaatkan media social, siaran dakwah online hingga aplikasi digital untuk pendidikan keluarga. Muhammadiyah memandang bahwa masyarkat saat ini lebih dekat dengan media, maka langkah yang diambil juga harus masuk lewat pratform yang sama untuk menyampaikan edukasi-edukasi mengenai pembinaan keluarga. Pendekatan seperti ini mampu dinilai bahwa konsep dan inovasi yang dilakukan mampu menyentuh secara komprehensif dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai islam itu sendiri.
Dari berbagai macam pendekatan yang dilakukan oleh Muhammadiyah dalam membina keluarga sakinah dikalangan masyarakat baik melalui Lembaga Pendidikan yang formal, pengajian non-formal, dan pembinaan dari Aisyiyah, sampai dengan penggunaan media digital maka dapat disimpulkan bahwa strategi ini telah menyentuh berbagai lapisan masyrakat secara menyeluruh. Namun penting untuk mengevaluasi sejauh mana efektivitas dari strategi yang dijalankan telah berdampak dalam praktik nyata-Nya
Berdasarkan dari beberapa jurnal yang dianalisis, menyatakan bahwa strategin yang dilakukan Muhammadiyah memberikan dampak yang nyata dan relevan apalagi jika dilakukan di komunitas yang testruktur seperti sekolah Muhammadiyah, masjid, cabang Aisyiyah dan organisasi otonom lainnya. Namun, tidak menutup kemungkinan dalam mengimplementasikan lepas dari tantangan seperti Ketika menjangkau masyarakat yang sibuk, masyarakat pedesaan yang terbatas aksesnya atau beberapa kelompok yang cenderung tidak mau mengikuti pengajian konvensional
Dalam jurnal (Panjalu & Mas’ad, 2025:58) dijlaskan bahwa dalam konteks komunitas diaspora yang dilakukan di kepong, Malaysia, program pelatihan keluarga sakinah yang di konsep berbasis Himpunan Putusan Tarjih dan juga menggunakan metode interaktif berhasil meningkatkan kesadaran dan pemahaman dari para peserta. Sehingga hal ini memberikan pembuktian bahwa Ketika suatu strategi di konsep dengan kreatif, kontekstual, dan komunikatif maka hasilnya akan sesuai denga napa yang diharapkan, kalau dalam segi kasus di wilayah perkotaan Indonesia masih terdapat beberapa keluarga muda yang belum mengteahui adanya program pembinaan keluarga dari Muhammadiyah salah satu sebabnya karena kurangnya akses informasi atau promosi program secara komperhensif
Maka dari itu, Muhammadiyah masih perlu senantiassa untuk mengeveluasi efektivitas pendekatan yang dilakukan. Misalnya perlu melakukan riset-riset lanjutan terkait keterjankauan yang disentuh dari pesan-pesan dakwah keluarga sakinah melalui media social, serta penguatan kolaborasi antara tiap organisasi otonom Muhammadiyah untuk menargetkan ke dalam kelompok muda.
Keluarga sebagai kelompok social terkecil tidak menutup kemungkinan terhindar dari pengaruh besar arus globalisasi saat ini. Di sisi lain globalisasi mampu membawa kemundahan dalam menerima dan mendaptkan informasi. Namun, di sisi lain perubahan ini membawa tantangan dari aspek kehidupan dan nilai-nilai keislaman salah satunya dari segi pembinaan keluarga Sakinah
Salah satu yang menjadi tantanga terbesar adalah perubahan cara berfikir dari gaya hidup Masyarakat, terutamanya di kelompok Masyarakat muda, budaya yang dikenal dengan istilah introvert dikalangan pemuda pemudi saat ini sehingga ini yang menjadi sesuatu yang mengikis semangat kebersamaan dalam sebuah keluarga. Tidak sedikit dikalangan pemuda saat ini cenderung ingin kebebasan tanpa tanggung jawab sehingga membentuk pola piker bahwa pernikahan sebagai beban, bukan sebgai ibadah.
Dalam jurnal Nasuka (2016), disebutkan bahwa banyak diantara keluarga muslim saat ini dihadapkan dengan tantangan besar dalam menjaga nilai-nilai islam seperti tanggung jawab, keadilan gender, dan komunikasi yang semestinya. Globalisasi Sebagian besar mampu memberikan kemudahan, namun juga membuat banyak keluarga tersesat dalam kebingungan nilai dan arah (Nasuka, 2016:113). Anak-anak lebih mudah menemukan role model dari influencer dari jagat maya kebanding dari ayah dan ibunya di rumah. Sehinga ini menjadi ancaman besar jika tidak dibersamai dengan didikan akhlak yang kuat.
Pendidikan islam adalah salah satu bagian yang paling fundamental dalam membentuk keluarga Sakinah. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, kasih saying, keadilan, dan komunikasi yang baik merupakan inti dari anjuran agama islam yang jika diterapkan dalam sebuah kelompok rumah tangga maka akan menjadi fondasi utama dalam terbentuknya keluarga yang harmonis dan berkah.
Dalam jurnal Yunahar ilyas (2006) menguraikan bahwa keluarga merupakan Pendidikan pertama yang mampu membentuk akhlak dan karakter anak. Oleh karena itu, Pendidikan islam tidak hanya terjadi dalam ruang kelas saja akan tetapi dimulai sejak anak dilahirkan ke dunia sehingga peran ayah dan ibu selaku orang tua dalam berperilaku akan menjadi keteladanan bagi anak-anak dalam memahami nilai-nilai Sakinah sejak dini
Kemudian, Hidayat dan Fadillah (2021) menguraikan bahwa Pendidikan agama islam sangat efektif dalam memberikan pemahaman terkait peran dan kewajiban masing-masing anggota keluarga, baik sebagai suami, istri, maupun sebagai anak. Dari proses Pendidikan tersebut mampu membentuk kesadaran bahwa keluarga bukan hanyalah tempat tinggal fisik tetapi tempat tumbuhnya nilai spiritual dan sosial.
Proses Pendidikan juga mampu memberikan bekal terhadap anggota dengan kemampuan menyelesaikan sebuah konflik secara bijak. Di dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum, meyatakan bahwa Allah menyebutkan hubungan suami istri dibangun atas dasar mawaddah ma Rahmah. Ini tidak hanya diartikan sebagai cinta dan kasih, tetapi juga sebagai komitmen untuk saling mendidik, menghargai, dan memibina suatu tumah tangga (Shihab, 2013)
Nurhayati (2021) berpendapat bahwa keluarga yang tidak disentuh oleh pendidikan islam secara baik cenderung rentan terhadap konflik, perceraian hingga kekerasan dalam rumah tangga. Maka dari itu Pendidikan bukan hanya sekedar kebutuhan spiritual, tetapi juga sebagai langkah penting dalam membina keluarga Sakinah
Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah, telah memiliki pengalaman dalam membina keluarga dan Perempuan. Dalam kondisi globalisasi saat ini, aisyiyah tidak hanya bergerak di ranah dakwah spiritual, tetapi juga sebagi tombak dalam penguatan ekonomi keluarga, Pendidikan ibu-anak, sampai ketahanan social.
Dalam jurnal Nafi’ah (2019) membahas bahwa program majelis ekonomi aisyiyah telah mampu mendorong Perempuan untuk berdaya dalam segi ekonomi tanpa meninggalkan peran dalam sebuah keluarga. Salah satu program yang dijalankan seperti pelatihan keterampilan, UMKM, dan pengelolaan keuangan rumah tangga sehingga membantu ibu rumah tangga lebih mandiri, yang berpengaruh besar dalam stabilitas rumah tangga.
Alfiannor (2024) menyatakan bahwa aisyiyah melakukan program keluarga Sakinah melalu beberapa pendekatan salah satunya dari segi spiritual, Pendidikan, kesehatan, ekonomi, social, hingga lingkungan. Konsep yang dilakukan ini diimplementaskian melalui pengajian rutin, pelatihan pranikah, hingga ruang konsultasi keluarga dari berbagai cabang aisyiyah.
Dalam era yang serba digital, aisyiyah juga tidak lupa untuk melek akan teknologi saat ini makanya dalam ranah daring dan media social juga dimanfaatkan sebagai media ndakwah keluarga. Dalam pandangan Fitria (2020), komunikasi dalam rumah tangga yang baik tidak hanya diciptakan secara langsung, tetapi juga komitmen yang berkelanjutan salah satunya melalui platfoem digital yang dapat diakses oleh ibu rumah tangga dimanapun mereka berada.
Langkah-langkah yang diambil oleh Aisyiyah sangat penting mengingat kondisi beberapa keluarga di era modern saat ini telah menerapkan dual income family (dimana kedua orang tua bekerja) sehingga menyebabkan krisis komunikasi, dan juga tekanan ekonomi. Maka dari itu penerapan dari program Aisyiyah bukan hany penting, tetapi juga krusial agar terciptanya keluarga Sakinah yang tetap relevan dan kokoh dalam era yang terus berubah.
3. KESIMPULAN
Pencapaian keluarga Sakinah adalah merupakan suatu cita-cita dari setiap pasangan muslim yang telah memasuki kehidupan rumah tangga. Islam memandang, keluarga Sakinah merupakan keluarga yang mampu dibangun dengan dasar ketenangan, kasih sayang (mawaddah) dan rahmat (rahmah), serta tanggung yang seimbang dari suami dan istri. Tetapi dalam realitas kehidupan saat ini terutama di era globalisasi dan modernisasi, cara tersebut dihadapkan dengan banyak tantangan. Oleh karena itu, upaya dalam mencapai keluarga sakinah harus dilakukan secara sadar dan betul-betul memperjuangkannya.
Muhamadiyah sebagai pelopor dan penyempurna agama telah mengambil Langkah dan peran aktif dalam pembinaan keluarga sakinah. Melewati banyak pendekatan baik formal maupun non-formal, Muhammadiyah tidak hanyak membuat konsep pembinaan keluarga sakinah secara teoritis dalam tiap administrasi keagamaannya, akan tetapi juga menerjemahkannya ke dalam berbagai program yang nyata dan mampu menyentuh setiap lapisan masyarakat. Setiap strategi yang dikembangkan Muhammadiyah terbukti memiliki akar yang kuat dalam ajaran islam, sekaligus mampu beradaptasi seiring berkembangnya zaman
Salah satu strategi yang diapakai oleh Muhammadiyah dalam pembinaan keluarga sakinah adalah melalui Pendidikan formal. Lembaga Pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi telah menjadi sarana utama dalam penanaman nilai-nilai dasar keluarga dalam islam sejak dini. Tidak hanya peserta didik yang mendapatkan dampak dari program ini akan tetapi juga para orang tua yang dilibatkan dalam kegiatan pengajian hingga pelatihan keluarga. Ini menggambarkan bahwa pendidikan keluarga tidak hanya terjadi dalam rumah, tetapi juga menjadi bagian dari proses Pendidikan di tiap sekolah Muhammadiyah
Selain dari segi Pendidikan formal, Muhammadiyah juga memiliki strategi dakwah keluarga melalui pengajian, pelatihan, dan sebagainya, yang dikelola langsung dari organisasi otonom Muhammadiyah seperti aisyiyah. Aisyiyah yang dikenal sebagai organisasi Perempuan Muhammadiyah telah konsisten dalam menjalankan progam pembinaan keluarga sakinah sejak 1985. Program tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan spiritual seperti Pendidikan, ekonomi, Kesehatan, social dan lingkungan. Dengan pendekatan menyeluruh dan kontekstual, sehingga Aisyiyah mampu menjawah segala kebutuhan masyarakat yang beragam dari desai ssampai dengan kota, dari komunitas lokal hingga diaspora
Yang menjadi dasar pijakan dalam ideologis dari seluruh strategi ini adalah Himpunan Putsan Tarjih Muhammadiyah yang memuat prinsip-prinsip dalam membentuk keluarga sakinah. Namun demikian pembinaan keluarga sakinah tidak lepas dari berbagai tantangan seperti globalisasi, digitalisasi, dan meningkatnya nilai sosial sehingga membuat tantangan semakin kompleks. Arus inforamsi yang deras serta budaya instan, dan gaya hidup sosial yang konsumtif membuat keluarga makin jauh dari nilai-nilai sakinah. Dan juga meningkatnya angka perceraian, minimnya komunikasi antaranggota keluarga serta kurangnya kesiapan mental dalam membina sebuah rumah tangga sehingga menjadi persoalan serius yang dihadapi masyarakat saat ini.
Dalam kondisi komunitas diaspora, tantangan seperti ini lebih terasa. Kurangnya komuikasi antaranggota membuat menjadi renggang nilai-nilai agama diacuhkan dan peran institusi keagamaan semakin tersingkirkan. Maka dari itu, Muhammadiyah perlu terus menungkatkan strategi dan konsep dalam program pembinaan keluarga yang terus berinovatif. Karena generasi muda yang lebih dekat dengan dunia digital maka pemanfaatan media sosial, konten digital, dan pelatihan menjadi strategi penting dalam merespons kebutuhan zaman.
Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa peran muhammadiyah dalam membina keluarga sakinah sangat besar serta terstruktur dan mampu memiliki arah yang jelas. Dengan semangat tajdid (pemabaruan), muhammadiyah mampu menjaga nilai tentang keluarga, tetapi juga mampu menjaga tantangan kontemporer dengan pendekatan mengikuti perkembangan zaman.
-----||----- -----||----- -----||----- -----||----- -----||-----
REFERENSI
Alfiannor. (2024). Muhammadiyah dan tuntunan menuju keluarga sakinah. Jurnal Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam, 2(5), 35–45.
Fitria, H. (2020). Komunikasi dalam keluarga sebagai pilar keluarga sakinah. Jurnal Komunika, 12(2), 200–214.
Hidayati, N., & Fadillah, M. (2021). Peran pendidikan agama Islam dalam mewujudkan keluarga sakinah. Al-Munir: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 2(2), 150–161.
Kamaruddin, S. (2020). Digitalisasi dan tantangan pendidikan keluarga di era milenial. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, 4(4), 517–525.
Nafi’ah, U. (2019). Peran Aisyiyah dalam pemberdayaan keluarga melalui Majelis Ekonomi. Jurnal Empowerment: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, 8(2), 22–30.
Nasuka, M. (2016). Urgensi maqasid syari’ah dalam membangun keluarga sakinah di era globalisasi. Jurnal Syariah dan Hukum Islam, 4(1), 105–118.
Nurhayati, E. (2021). Revitalisasi nilai Islam dalam ketahanan keluarga. Jurnal Sosial Humaniora, 9(1), 31–40.
Panjalu, G. F., & Mas’ad, A. (2025). Sakinah family education based on Tarjih Muhammadiyah: Education of Indonesian migrant families in Kepong Malaysia. Kamilla: Jurnal Pendidikan Islam, 6(1), 50–62.
Rahmah, N. (2018). Dampak globalisasi terhadap perilaku keluarga Muslim. Jurnal Pendidikan Islam, 3(1), 89–98.
Ramzy, M. D., Hidayat, A., & Taufik, R (2023). Peran pendidikan dalam mewujudkan keluarga sakinah menurut pemahaman Muhammadiyah. Jurnal Hukum dan Pendidikan Masyarakat, 6(1), 974–980.
Shihab, Q. (2013). Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Mizan.
Syamsul, M. (2017). Pendidikan Islam dalam membangun keluarga sakinah. Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah, 23(1), 77–90.
Yunahar, I. (2006). Reformulasi pemikiran Islam tentang keluarga sakinah. Pustaka Pelajar.
Zuhrah, F. (2019). Memperjuangkan keluarga sakinah di tengah era globalisasi di Indonesia. Prosiding Seminar Gender dan Anak, 1(1), 37–46. Departemen Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. (2007). Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah Jilid 3. Suara Muhammadiyah.
Mungkin Anda Suka: