Loading...

Ketika Internet Menjadi Dokter: Pelajar Perlu Belajar Memilah, Bukan Sekadar Mencari

opini Najwa Hafidzah Idris 25 Aug 2026 254 Views

opini Najwa Hafidzah Idris
25 Aug 2026 254 Views

Pernah nggak kita merasa ada yang berbeda dengan tubuh atau pikiran, lalu hal pertama yang dilakukan adalah membuka Google, TikTok, atau bertanya kepada AI?

Saya rasa, banyak pelajar pernah melakukannya.

Sulit tidur, langsung cari penyebabnya. Jantung berdebar, cari kemungkinan penyakitnya. Susah fokus, lalu muncul video yang bilang itu tanda gangguan tertentu.

Awalnya Cuma penasaran.

Tapi setelah beberapa kali scrolling, tiba-tiba muncul pikiran “Jangan-jangan aku juga mengalami itu?”.

Disinilah masalahnya. Informasi yang awalnya kita cari untuk memahami diri sendiri bisa berubah menjadi kesimpulan tentang diri sendiri. Kita merasa sudah menemukan jawabannya, padahal sebenarnya belum tentu.

 

Internet Bukan Dokter

Sekarang, informasi kesehatan ada di mana-mana di TikTok ada, Instagram ada, Google ada, bahkan AI bisa menjawab pertanyaan kita dalam hitungan detik.

Tentu ini memudahkan. Kita jadi lebih mudah mencari tahu ketika merasa bingung dengan sesuatu yang terjadi pada tubuh atau diri kita.

Tapi ada satu hal yang sering kita lupa:

Mencari informasi kesehatan tidak sama dengan mendiagnosis diri sendiri.

Satu gejala bisa memiliki banyak penyebab. Karena itu, kita tidak bisa begitu saja mencocokkan apa yang kita rasakan dengan hasil pencarian di internet.

Masalahnya, internet sering membuat kita merasa sudah menemukan jawaban sebelum benar-benar memahami masalahnya.

 

Sebagai Mahasiswa Administrasi Kesehatan, Saya Melihat Ini Bukan Sekadar Tren

Semakin belajar Administrasi Kesehatan, saya justru sadar bahwa persoalan ini bukan sesederhana terlalu sering membuka Google atau TikTok. 

Kesehatan bukan hanya soal penyakit dan obat. Ada juga bagaimana seseorang mendapatkan informasi, memahaminya, lalu menggunakannya untuk mengambil keputusan.

Dari situ saya melihat bahwa persoalan self-diagnosis juga berkaitan dengan kemampuan kita memilah informasi kesehatan.

Kita tidak harus tahu semua istilah medis. Kita juga tidak harus bisa mendiagnosis diri sendiri.

Yang penting, kita tahu kapan harus mencari informasi, kapan harus memeriksanya kembali, dan kapan perlu meminta bantuan tenaga kesehatan.

Menurut saya, kemampuan seperti ini perlu dibangun sejak pelajar.

Karena menjadi sadar kesehatan bukan berarti harus tahu semuanya. Kadang, justru tahu kapan kita tidak bisa menentukannya sendiri.

 

Pelajar IPM Harus Bisa Bilang, “Cek Dulu”

Sebagai kader IPM, saya merasa isu ini dekat dengan kehidupan kita.

Kita hidup di tengah media sosial, konten, dan AI. Hampir setiap hari kita menerima informasi yang belum tentu semuanya benar. Karena itu, semangat tabayyun menurut saya menjadi semakin penting.

Jangan langsung percaya hanya karena informasinya viral, Jangan langsung membagikan hanya karena terlihat meyakinkan dan jangan langsung menyimpulkan kondisi kesehatan diri sendiri hanya karena merasa beberapa gejalanya mirip.

Kita bisa mulai dari hal sederhana: CEK.

C — Cari sumbernya.

Siapa yang membagikan dan membuat informasi tersebut?

E — Evaluasi isinya.

Apakah ada dasar yang jelas atau hanya pengalaman seseorang?

K — Konfirmasi.

Bandingkan dengan sumber yang terpercaya atau tanyakan kepada tenaga kesehatan jika diperlukan.

Sederhana, tapi penting.

 

Jangan Berhenti Mencari, Tapi Belajarlah Memilah

Sebagai penutup saya percaya, bahwa pelajar IPM hari ini tidak cukup hanya menjadi generasi yang digital savvy, tetapi juga harus health savvy.

Bukan yang paling cepat menemukan diagnosis di internet. Tetapi yang mau mencari, mau memeriksa, dan tahu kapan harus meminta bantuan.

Karena di tengah dunia yang membuat kita bisa mendapatkan jawaban dalam hitungan detik, kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya,

“Ini benar nggak, ya?”

Mungkin justru menjadi salah satu bentuk kecerdasan yang paling kita butuhkan.

Cari dahulu.

Cek kemudian.

Lalu Pahami.

Jangan buru-buru mendiagnosis diri.

Karena teknologi seharusnya membantu kita lebih sadar tentang kesehatan, bukan membuat kita merasa menjadi dokter bagi diri sendiri.